October 17, 2021

Update Corona 13 Maret 2021: Bertambah 4.607, Total Kasus Positif Covid-19 di Indonesia 1.414.741

Pemerintah melalui Satuan Tugas Penanganan Covid 19 memperbarui soal data jumlah pasien positif corona di Indonesia, Sabtu (13/3/2021). Dilihat dari data pada situs resmi covid19.go.id, pasien terkonfirmasi positf Covid 19 bertambah 4.607 orang. Kini total kasus positif Covid 19 di Indonesia berjumlah 1.414.741 orang.

Angka tambahan ini seperti diketahui turun ketimbang pada hari Jumat kemarin, yang mencapai 6.412 kasus. Data tersebut juga menunjukkan penambahan pasien sembuh mencapai 6.016 orang. Adapun total pasien sembuh secara keseluruhan sebanyak 1.237.470 orang.

Sementara, jumlah yang meninggal dunia menjadi 38.329 orang setelah ada penambahan kasus meninggal hari ini sebanyak 100 orang. Jumlah Suspek yang dipantau per hari ini tercatat sebanyak 61.613 orang. Adapun spesimen yang diperiksa hari ini sebesar 76.914 spesimen. Seperti diketahui, pada Jumat (12/3/2021) kemarin, kasus positif Covid 19 total sebanyak 1.410.134 kasus. Sementara, jumlah pasien sudah sembuh menjadi 1.231.454 orang.

Adapun total pasien meninggal dunia sejumlah 38.229 orang. Ketua Satgas Covid 19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengatakan kemungkinan Covid 19 tidak akan hilang dari muka bumi. Menurut Zubairi, kemungkinan Covid 19 tidak akan menjadi pandemi lagi, tapi berubah menjadi endemi, yakni penyakit yang terjadi di suatu wilayah saja.

"Kemungkinan yang paling besar yang terjadi dengan penyakit yang gawat ini. Walaupun sudah usaha ikhtiar adalah menjadi endemi. Jadi sekali sekali, nanti berapa tahun lagi ada di Papua. Nanti bulan berikutnya ada di Jakarta. Namun tidak di seluruh Indonesia menjadi endemi," ujar Zubairi dalam Webinar Refleksi Penanganan Covid 19 di Indonesia, Kamis (11/3/2021). Zubairi mengungkapkan banyak penyakit di dunia yang tidak bisa hilang. Sejauh ini, kata Zubairi, hanya variola atau cacar yang dapat hilang.

Contoh penyakit yang tidak hilang dan tetap ada saat ini adalah Influenza dan Hepatitis C. Influenza selama ini terus ada di wilayah Eropa dan Amerika. Setiap tahunnya pada bulan Oktober hingga Desember, dilakukan vaksinasi untuk mencegah penularan Influenza di Amerika Serikat.

"Virusnya Influenzanya bermutasi. Mutasi setiap tahun ini tidak mempan dengan vaksin sebelumnya," tutur Zubairi. Zubairi memperkirakan Covid 19 tidak akan hilang melainkan dapat dikendalikan. Langkah untuk mengendalikan Covid 19, menurut Zubairi, adalah melalui vaksinasi.

Kekebalan kawanan atau herd imunity diharapkan terbentuk setelah proses vaksinasi. "Sehingga terjadi herd imunity. Sehingga virusnya pusing. Mau menular ke A kebal, menular ke B kebal, ke C kebal. Sudah gak mempan, jadi tidur deh menjadi endemi," kata Zubairi. Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih mengatakan, selain penguatan kedisplinan masyarakat terhadap protokol kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan).

Upaya lain yang perlu dilakukan pemerintah adalah mensosialisasikan anjuran membuka ventilasi atau jendela di semua ruangan atau tempat umum baik tempat usaha, perkantoran, sekolah, tempat ibadah, dan lainya. "Ventilasi yang terbuka dapat menghilangkan viral load dari orang orang yang asimtomatik atau orang tanpa gejala. Jika tidak ada jendela maka bisa menggunakan pembersih udara atau air purefier," jelas Daeng dalam keterangan pers yang diterima Kamis (11/3/2021). Daeng menerangkan, dari data yang didapati penularan virus dapat melalui aerosol, sehingga paling sulit mengendalikan orang orang yang asimtomatis atau tanpa gejala.

WHO mengingatkan dunia bahwa penyebaran SARSCOV 2 adalah transmisi airborne (melalui droplet udara) microdroplets (5pm). Transmisi aerosol tidak mesti batuk atau bersin, bernafas normal dapat menularkan. Ketika bernafas dan berbicara pun dapat mengeluarkan virus. Penyebaran dalam bentuk droplets (batuk, bersin, nafas dan berbicara) berukuran >5 pm akan mengendap di lantai, sedangkan ukuran <0.8 10 pm tetap ada di udara hingga 1 3 jam (virus bisa hidup).

Ukuran aerosols virus terbanyak (0.5 hingga 5 pm) adalah ukuran paling lazim terhirup nafas. Penularan dapat terjadi tanpa disadari karena data global 1 dari 3 orang bisa bersifat asimptomatik / pre symptomatik (tidak bergejala, tetapi mempunyai kemampuan menyebarkan virus sama dengan orang terinfeksi yang bergejala). "Apabila ada seseorang yang terinfeksi baik bergejala maupun tidak bergejala, secara tidak disadari menghembuskan nafas pun dapat menyebarkan virus," ujar dia.

Dilaporkan, saat orang terinfeksi akan menyebarkan virus dengan rata rata penularan terjadi 35% dari droplet (terutama jarak dekat), 57% dari inhalasi (microdroplet), dan hanya 8.2% dari kontak. Pada keadaan ruangan yang tertutup, dimana udara berputar putar, atau transmisi pada ruang konferensi dengan udara AC yang berputarputar maka berpotensi menjadi masalah. Oleh karena itu sistem ventilasi pada umumnya saat ini adalah dengan menggunakan AC central, dengan sirkulasi udara yang buruk dan kurang cahaya ultraviolet, maka virus SARS CoV 2 dapat bertahan hidup hingga 3 jam dalam ruangan.

Faktor lain seperti iklim, cuaca, suhu, kelembaban dan sinar matahari juga mempengaruhi penyebarannya. "Jadi jika ruangan yang tidak bisa membuka jendela harus mengunakan pembersih udara (air purifier) yang dapat menyaring dan membunuh virus 99,9%. Sehingga kegiatan sekolah, kantor, tempat usaha dapat kembali aktif," jelas dr.Daeng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *